Tag Archives: bahasa Jepang

Domestication dan Foreignisation

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel media daring Jepang mengenai perubahan pada Doraemon sehubungan dengan akan ditayangkannya serial tersebut di Amerika Serikat. Perubahan yang dimaksud adalah dilakukannya lokalisasi termasuk penyesuaian dengan kebiasaan yang berlaku di Amerika.

Dalam artikel tersebut dijelaskan beberapa perubahannya sebagai berikut: pada adegan makan, adegan menggunakan sumpit diganti dengan garpu dan nasi omelet diganti dengan pancake. Nilai ulangan Nobita yang mendapat nilai 0 diganti dengan F (sesuai dengan metode penilaian di Amerika).

Nama-nama alat ajaib milik Doraemon juga diterjemahkan. Namun ini tidaklah aneh karena di Indonesia pun peralatan ajaib milik Doraemon juga di terjemahkan. Perubahan juga bahkan terjadi pada nama tokoh, contohnya Nobita menjadi Nobby dan Giant menjadi Big G.

Dalam penerjemahan dikenal metode yang disebut domestication dan foreignisation. Kedua istilah tersebut merujuk pada pendekatan mana yang digunakan oleh penerjemah ketika menerjemahkan. Apabila penerjemahannya lebih mendekati bahasa sasaran, maka penerjemah tersebut menggunakan metode domestication. Sebaliknya, apabila penerjemah lebih mendekati bahasa sumber, maka metode yang digunakan adalah foreignisation.

Dalam kasus Doraemon di Amerika Serikat yang saya sampaikan di atas, penerjemahannya harus mengambil metode domestication untuk menyesuaikan dengan perubahan yang dilakukan pada adegan-adegan dalam serial tersebut.

Ketika menerjemahkan komik Jepang, saya pun harus memutuskan apakah akan menggunakan metode domestication atau foreignisation. Pihak penerbit sebenarnya sudah memberikan aturan mengenai hal ini. Terutama untuk penggunaan kata panggilan seperti –san, -chan atau –kun memang tidak diperbolehkan. Lalu, apakah dengan demikian komik terjemahan saya bisa disebut sudah didomestikasi?

Saya pribadi akan mengatakan tidak. Khususnya karena tidak ada perubahan drastis seperti perubahan adegan seperti yang dilakukan pada contoh kasus Doraemon di atas. Terjemahannya cenderung foreignisation karena dalam beberapa kasus saya atau editor saya memberikan catatan kaki untuk menjelaskan istilah yang memang khusus atau tidak bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Metode manapun yang digunakan, pada akhirnya yang penting adalah keberterimaan pada pembacanya. Salah satu latar belakang munculnya fansub di internet adalah karena adanya ketidakpuasan terhadap hasil terjemahan.

Para pembaca komik yang terhormat, semoga terjemahan saya dapat diterima oleh anda sekalian. ^^

Leave a comment

Filed under Penerjemahan

Tes Penerjemah Subtitle Film

Saya pernah mendapat tawaran untuk mengikuti tes sebagai penerjemah subtitle film di salah satu penyedia TV berbayar. Saya mengiyakan tawaran tersebut karena saya rasa itu akan menambah pengalaman saya sebagai penerjemah.

Materi tes yang diberikan adalah menerjemahkan cuplikan acara (sekitar 10 menit) dari bahasa asing ke bahasa Indonesia dalam waktu 1 jam. Di sini kemampuan untuk mendengarkan (listening) sangat dibutuhkan karena pada saat tes tidak diberikan skrip dalam bahasa aslinya. Kalimat-kalimat dalam acara tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan sesuai dengan format yang telah ditentukan.

Untuk tesnya sendiri hanya menerjemahkan saja tanpa melakukan timing (menyesuaikan kapan teks terjemahan harus tampil dalam gambar). Waktu yang disediakan adalah 1 jam dan pada hari itu juga hasilnya diumumkan. Apabila dinyatakan lolos, nanti akan diberikan 1 keping DVD berisi sebuah acara utuh untuk latihan menerjemahkan sekaligus timing dengan menggunakan piranti lunak.

Menurut saya sendiri, tingkat kesulitan menerjemahkannya relatif karena tergantung dari konten acara atau filmnya. Hal yang cukup sulit adalah justru menggunakan piranti lunak untuk timing-nya karena bisa memakan waktu lebih banyak dibandingkan dengan menerjemahkan konten itu sendiri. Namun apabila sudah cukup familiar dengan short key-nya, sebenarnya tidak terlalu sulit.

Jika dibandingkan dengan menerjemahkan komik, saya rasa menerjemahkan subtitle adalah seperti menjadi penerjemah dan editornya sekaligus. Ketika menerjemahkan komik, saya hanya cukup fokus dalam proses menerjemahkannya saja. Hal-hal yang berkaitan dengan penempatan ke dalam balon-balon dialog, tidak menjadi tugas saya. Sedangkan dalam menerjemahkan subtitle, selain menerjemahkan, saya juga harus menentukan kapan teks tersebut harus muncul dalam gambarnya.

Tips saya bagi yang ingin mengikuti tes sebagai penerjemah subtitle film:

- Tidak perlu terburu-buru hendak menyelesaikan materi tes. Fokus saja dengan yang bisa dikerjakan.

- Perhatikan penggunaan EYD.

- Ketika hendak memotong kalimat, pastikan agar kalimat berikutnya berbentuk utuh sehingga tidak membingungkan penonton.

Contoh: Dia adalah anak…              →            Dia adalah…

              …tetangga yang hilang.                     …anak tetangga yang hilang.

- Tidak ada hubungannya langsung dengan proses penerjemahan, tetapi pendingin ruangan (AC) di tempat saya tes sangat dingin. Ada baiknya untuk bawa jaket juga.

Jika diberi DVD untuk latihan, usahakan untuk kuasai short key­ piranti lunak subtitling-nya karena akan lebih cepat dibandingkan klak-klik dengan menggunakan tetikus (mouse).

Semoga bermanfaat. Selamat mencoba dan semoga berhasil ^^

Leave a comment

Filed under Penerjemahan

Kewajaran Bahasa

Menerjemahkan adalah sebuah proses untuk menyampaikan pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Bahasa sumber dan bahasa sasaran tidak selalu memiliki tata bahasa yang sama. Oleh karena itu, penerjemah harus menyesuaikan tata bahasa dalam bahasa sasarannya. Tujuannya adalah agar naskah terlihat ‘wajar’ ketika dibaca oleh pembaca bahasa sasaran. Inilah yang disebut dengan kewajaran bahasa.

Di bawah ini adalah contoh terjemahan yang biasa saya temukan:

2014年1月1日(水)        diterjemahkan: 1 Januari 2014 (Rabu)

Terjemahan di atas adalah benar, tetapi tidak wajar. Mengapa? Karena di Indonesia, kita biasa menulis tanggal seperti di bawah ini:

Rabu, 1 Januari 2014

Ketidakwajaran seperti di atas biasa terjadi karena cenderung untuk mengikuti bentuk bahasa sumbernya dengan mengabaikan bahasa sasarannya. Padahal kualitas terjemahan akan dinilai dari bahasa sasarannya.

Ketika baru mulai menjadi penerjemah, saya juga sering terlalu fokus dengan tata bahasa Jepang. Bahkan sampai letak tanda baca (titik koma) dan tanda petiknya pun mengikuti pola dalam bahasa Jepang.

Tanda petik Jepang: 「 」

Penting bagi penerjemah untuk membaca kembali hasil terjemahannya. Tidak hanya untuk memeriksa salah ketik saja, tetapi juga untuk memastikan agar hasil terjemahannya terasa “wajar” ketika dibaca tanpa dibandingkan dengan sumbernya. Mohon diingat, menerjemahkan bukanlah mengganti bahasa sumber menjadi bahasa sasaran. Melainkan menyampaikan isi dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran.

Mari kita sampaikan pesan yang benar dan wajar ^^

1 Comment

Filed under Penerjemahan

Reimburse

“Apa Bahasa Indonesia-nya seisan (精算)?”

“Hmm, biasanya di sini pakai Bahasa Inggris, bilang saja reimburse

 

Itu adalah penggalan pertanyaan dari orang Jepang ke saya. Setelah mendapat pertanyaan tersebut, saya mencoba untuk mencaritahu apa Bahasa Indonesia untuk kata “reimburse” tersebut. Pertama, saya pastikan dulu definisi reimburse tersebut. Saya mengeceknya di kamus Oxford daring. Di sana tertera seperti ini:

 

Reimburse

verb

[with object]

repay (a person who has spent or lost money)

(sumber: http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/reimburse?q=reimburse)

 

Lalu bagaimana dengan ‘seisan’? Selama ini sepemahaman saya yang dimaksud dengan seisan adalah meminta penggantian pembayaran. Namun setelah mendapat pertanyaan di atas, saya jadi ragu apakah pemahaman saya selama ini benar atau salah. Maka saya cek kembali di kamus daring. Di sana tertera seperti ini:

 

せい‐さん 【精算】

[名](スル)金額などをこまかく計算すること。特に、料金などの過不足を計算しなおすこと。「乗り越し運賃を―する」「―所」

(sumber: http://kotobank.jp/word/%E7%B2%BE%E7%AE%97)

 

Nah, lho!? Kok, malah berbeda jauh. Jika saya artikan definisi di atas secara sederhana seisan adalah menghitung jumlah (uang) dengan rinci, terutama menghitung kekurangan pembayaran.

 

Mengapa berbeda sekali dengan pemahaman saya selama ini? Ketika saya mencoba mencari-cari lagi. Saya temukan jawaban terhadap perbedaan tersebut di sini:

http://english.evidus.com/magazine/ibunka/92.html

 

Berdasarkan penjelasan tersebut, intinya adalah seisan memiliki makna yang cukup luas tergantung pada penggunaannya. Sehingga pemahaman saya sebagai ”penggantian pembayaran” pun tidak salah.

 

Setelah memastikan definisi masing-masing dari seisan dan reimburse, kembali ke pertanyaan asal: apa Bahasa Indonesia-nya?

 

Secara pribadi, saya rasa ’penggantian pembayaran’ bisa digunakan sebagai terjemahan untuk seisan.

Contoh kalimat:

 

「先週の出張の精算をお願いします」

”Saya mau meminta penggantian pembayaran perjalanan dinas minggu lalu”

 

Hmm, jika mengatakan kalimat di atas secara lisan, kedengarannya begitu kaku jika dibandingkan dengan bahasa yang lebih pragmatis:

 

”Mau reimburse uang business trip minggu lalu, dong”

 

Mari kita gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar ^^

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Bikin gambatte?

Banyak produk Jepang yang beredar di Indonesia. Produk tersebut ada mobil, motor, kosmetik hingga makanan dan minuman. Sebagian besar dalam promosinya menegaskan bahwa produknya memang berasal dari Jepang. Hal ini sah-sah saja selama memang benar produk tersebut merupakan brand dari Jepang. Bahkan ada juga yang menggunakan bahasa Jepang sebagai ‘bumbu-bumbu’ dalam promosinya. Nah, untuk yang satu ini, ada sebuah iklan di TV yang cukup menggelitik saya. Sebenarnya iseng juga saya membahas ini, tapi iklan ini memang sudah membuat saya berdiskusi dengan beberapa orang yang bisa berbahasa Jepang (dan semua orang bilang saya kok iseng banget ngurusin kaya gini).

Iklan tersebut adalah iklan minuman teh (ocha) dalam kemasan botol PET. Dalam iklan teh yang mereknya berarti ‘masa depan’ ini, ada versi seorang karyawan laki-laki yang mengejar bosnya untuk mendapatkan tanda tangan sang bos. Sebelum mengejar sang bos, si karyawan minum teh kemasan tersebut dan mengucapkan “gambatte“. Setelah itu adegan berlanjut ke sang karyawan dibonceng sepeda motor (mungkin ojek) untuk mengejar sang bos sambil berteriak “gambatte“. Setelah berhasil mendapatkan tanda tangan, iklan pun ditutup dengan tagline, “teh yang bikin gambatte“.

Penggunaan kata “gambatte” dalam iklan tersebut lah yang menggelitik saya untuk menulis ini. Bentuk kamus dari gambatte adalah gambaru. Kata ini memang sulit untuk diterjemahkan, tetapi masih sepadan dengan kata berusaha, bersemangat atau berjuang. Perubahan bentuk kamus menjadi bentuk -te dapat diartikan menjadi dua. Pertama, sebagai bentuk sambung. Maksudnya, setelah kata gambatte, seharusnya terdapat kata lagi sesudahnya. Contoh, … kare wa gambatte, joushi o otta . Kedua, singkatan dari -tekudasai. Contoh, gambattekedasai.

Berdasarkan keterangan di atas, menurut hemat saya penggunaan kata gambatte dalam iklan tersebut kurang tepat. Kata gambatte tidak bisa dianggap sebagai bentuk sambung karena hanya digunakan secara mandiri.

Namun jika maksudnya adalah gambattekudasai, maka akan menjadi konyol karena sang karyawan berteriak gambatte seolah-olah orang disekitarnya yang sedang berusaha. Padahal yang berusaha dalam iklan tersebut adalah karyawan itu sendiri. Dengan demikian, tagline-nya pun menjadi terasa aneh. Dengan mengatakan “… bikin gambatte“, saya menangkap kesan kalimatnya belum tuntas. Jika diterjemahkan akan menjadi seperti “bikin berusaha dan… (?)”.

Kesimpulannya menurut saya, jika maksud dari copywritter adalah “teh yang bikin jadi punya semangat”, maka saya rasa akan tepat jika menggunakan bentuk kamusnya (teh yang bikin gambaru). Saya mencoba untuk melihatnya dari sisi penerjemahan karena tidak punya latar belakang ilmu linguistik. Minasan, ikagadeshouka?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Bahasa Jepang Kuno

Dulu ketika menerjamahkan komik Hikayat Genji, kesulitan terbesar yang saya hadapi adalah bahasa jepang kuno. Dalam komik tersebut banyak adegan surat menyurat maupun waka (puisi Jepang kuno). Saya sendiri tidak pernah belajar tentang bahasa Jepang kuno. Teman-teman orang Jepang saya pun tidak semuanya mengerti mengenai ini. Pada saat itu saya berusaha untuk memaknai setiap huruf kanji, sementara untuk hiragana-nya saya setengah menebak padanan kata dalam bahasa Jepang modern-nya.

Beberapa waktu yang lalu saya menemui lagi waka yang menggunakan bahasa Jepang kuno dalam komik. Waka dalam komik tersebut merupakan kunci dari alur cerita dan kata kuncinya ditulis dalam hiragana. Maksud dari komikusnya adalah menggunakan cara baca yang sama untuk kanji yang akan menjadi 2 kata yang berbeda. Permainan kata khas Jepang…

Nah, disaat saya bingung mencari arti dari kata dalam bahasa Jepang kuno tersebut. Saya menyadari bahwa di kamus daring weblio ternyata terdapat kamus bahasa Jepang kuno (Kogo Jiten 古語辞典). Wow, ini sungguh sangat membantu.

Bagi yang ingin mencoba, silakan klik di sini. Lumayan buat yang ingin mengerti manyoshu 万葉集.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Teori Penerjemahan

Saya cukup beruntung karena pernah memperoleh kesempatan untuk mendengarkan materi mengenai teori penerjemahan dari Prof. Benny Hoed. Beliau adalah mantan Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia dan dosen di Universitas Indonesia. Beliau memang bukan seorang ahli bahasa Jepang, tetapi materi yang disampaikannya berlaku umum untuk penerjemahan, Berikut ini saya akan coba untuk menuliskan kembali apa yang pernah saya peroleh dari beliau.

Penerjemahan adalah mengganti teks dalam suatu bahasa (Bahasa Sumber/BSu) dengan teks yang sepadan dalam bahasa yang lain (Bahasa Sasaran/BSa) [Catford, 1964]. Lebih tepat lagi, penerjemahan adalah mengungkapkan kembali ke dalam suatu bahasa (BSa), pesan (message) yang dinyatakan dalam bahasa yang lain (BSu) [Nida & Taber, 1974).

Definisi diatas mengindikasikan bahwa penerjemahan bukan sekedar menterjemahkan kata-kata asing ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan kamus semata. Pada dasarnya kalimat-kalimat sederhana dapat diterjemahkan langsung dengan mencari terjemahan dari kata di kamus. Namun perlu diperhatikan, contohnya bahasa Jepang yang memiliki partikel. Demikian juga  bahasa Indonesia yang memiliki imbuhan. Hal-hal seperti inilah yang perlu diketahui sehingga bisa ditangkap pesan yang sesungguhnya.

Seperti yang disampaikan oleh Prof. Benny, terjemahan yang BETUL adalah yang BERTERIMA (acceptable). Oleh karena itu, seorang penerjemah harus tahu siapa yang akan membaca terjemahannya dan tujuan dari penerjemahan tersebut.

Saya akan mengambil contoh diri saya sendiri. Saya adalah seorang penerjemah komik. Saya asumsikan pembacanya berusia rata-rata 15-30 tahun. Tujuan mereka membaca komik adalah mencari hiburan ringan. Berdasarkan analisis tersebut, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa saya bisa menggunakan bahasa Indonesia yang tidak baku. Tentunya saya juga harus mematuhi batasan-batasan penggunaan bahasa yang sudah ditentukan oleh penerbit. Jika komik-komik terjemahan menggunakan bahasa Indonesia yang baku, sudah bisa dipastikan tujuan para pembaca untuk mencari hiburan tidak tercapai.

Dalam melakukan penerjemahan, ada beberapa prosedur yang harus dilakukan. Disini saya hanya akan tuliskan prosedur yang dibuat oleh Newmark (1988). Newmark menyatakan bahwa penerjemahan terdiri dari 4 level:

1. The Textual Level: Memahami isi dari tulisan dalam bahasa sumber

2. The Referential Level: Mencari referensi mengenai istilah, kegiatan, peristiwa dsb. yang terdapat dalam bahasa sumber

3. The Cohesive Level: Menyatukan kalimat-kalimat yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran

4. The Level of Naturalness: Memperbaiki struktur bahasa yang sudah diterjemahkan agar bisa dibaca secara alami oleh pembaca sasaran.

Mungkin muncul pertanyaan, bagaimana saya bisa tahu bahwa terjemahan saya sudah terasa “alami”. Cara paling mudah adalah meminta orang lain untuk membaca hasil terjemahan yang sudah kita buat. Lebih baik lagi orang yang tidak tahu/mengerti bahasa sumber tulisan. Saya sendiri kadang suka meminta keluarga saya untuk membaca hasil terjemahan saya, terutama yang sumbernya dari kalimat yang cukup panjang atau humor-humor dalam bahasa Jepang untuk melihat apakah mereka akan bingung atau mengerti dengandengan kalimat yang saya terjemahkan.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa berguna bagi pembaca yang terlibat dalam dunia penerjemahan. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Benny Hoed atas materinya yang sangat bermanfaat, baik secara akademis maupun praktis.

Doumo arigatougozaimashita.

2 Comments

Filed under Uncategorized

Belajar Bahasa Jepang

Saya sering ditanya oleh teman-teman saya, bagaimana caranya agar bisa lancar berbahasa Jepang. Saya sendiri tidak pernah belajar bahasa Jepang secara formal. Namun kebetulan saya pernah ikut orangtua tugas belajar ke Jepang waktu kecil dan mendapat kesempatan kuliah di Jepang. Total saya tinggal di Jepang selama 9 tahun. Kebanyakan orang-orang yang mendengar cerita tentang lamanya saya tinggal di Jepang berpikir, “tentu saja dia lancar bahasa Jepang-nya, wong dia lama di Jepang kok”. Saya tidak menampik anggapan tersebut, tetapi saya tidak setuju jika lamanya tingal di Jepang dijadikan penyebab lancarnya berbahasa Jepang. Kenapa? Karena berbahasa Jepang bukan berarti sekedar bisa berbicara bahasa Jepang saja, melainkan juga bisa membaca dan menulis. Kedua hal inilah yang menjadi momok bagi orang-orang yang belajar bahasa Jepang. Sebagai orang Indonesia, kita terbiasa untuk membaca dan menulis dengan menggunakan huruf latin. Sehingga mempelajari bahasa yang tidak menggunakan huruf latin memerlukan usaha yang lebih agar dapat menguasainya.

Saya sendiri mengalami kesulitan ketika harus menguasai huruf kanji. Sekalipun waktu kecil saya pernah tinggal di Jepang, ketika itu saya bersekolah di sekolah Indonesia. Sehingga saya hanya mendapat pendidikan bahasa Jepang ala kadarnya. Saya memang dengan mudah mengingat hiragana dan katakana ketika sudah dewasa, tetapi untuk kanji, saya harus berusaha keras untuk menghafalnya. Lalu, bagaimana caranya agar bisa menghafal begitu banyak kanji? Saya sendiri merasa ada 3 hal yang membantu saya untuk menghafal kanji: membaca komik, bermain video game dan menonton acara tv jepang. Mungkin kedengarannya seperti bermain-main, tapi berikut penjelasan dari saya.

Membaca komik sudah tentu membutuhkan kemampuan membaca. Saya sangat senang membaca komik dan pada saat saya kuliah di Jepang pun saya ingin sekali membaca komik. Tetapi disini muncul masalah: bahasanya bahasa Jepang. Tidak mungkin saya bisa mendapatkan komik berbahasa Indonesia di Jepang kecuali titip kepada orang-orang yang pulang ke Indonesia untuk dibawakan. Namun rasanya hal tersebut sangat konyol, lagi pula yang versi bahasa Jepang nomornya sudah jauh dibandingkan dengan yang terjemahan. Akhirnya sayapun membeli komik yang bahasa Jepang dan membacanya sambil menenteng kamus. Tentu saja ini sangat merepotkan. Namun ini sangat membantu saya untuk mempelajari kosakata bahasa Jepang, sekaligus mengingat huruf kanji. Dibandingkan membaca bahan-bahan kuliah, tentu saja lebih menyenangkan untuk membaca komik.

Bermain game juga turut membantu saya untuk belajar kanji. Game yang dimainkan tentu saja bukan yang sekelas tetris atau pacman. Bermain game tipe RPG atau bahkan game olahrsga sekalipun memerlukan kemampuan untuk membaca. Untuk game RPG, sudah jelas sekali perintah-perintah yang ada tertulis dalan bahasa Jepang, sedangkan untuk game olahraga, menu dan strategi yang tertulis dalam huruf Jepang. Hanya saja berbeda dengan membaca komik, biasanya untuk game, cukup hanya sekali saja untuk buka kamus. Kenapa? Karena selanjutnya sudah hafal dengan isinya :p

Yang menurut saya sangat membantu adalah menonton acara tv jepang. Bagi yang pernah lihat mungkin sudah tahu bahwa biasanya acara tv jepang suka menuliskan subtitle atas kata-kata yang diucapkan oleh pengisi acara. Tujuan dari subtitle tersebut adalah untuk membantu mereka yang memiliki pendengaran kurang agar tetap bisa memahami isi acara. Pada awal saya kuliah di Jepang, saya tidak suka menonton acara tv selain kartun yang saya pun kadang tidak memahaminya. Saya mulai menonton acara tv Jepang ketika libur musim panas pertama saya. Ketika itu senior-senior saya banyak yang pulang ke Indonesia, sehingga saya tidak punya kegiatan lain. Iseng-iseng saya menonton tv. Saya perhatikan pada saat itu, hampir semua acara tv bertema variety show dan sering sekali terdengar suara tawa. Saya mulai mencoba memahami dengan menonton sambil membawa kamus. Karena terdapat subtitle, saya jadi tahu cara baca kanjinya. Setelah itu saya cari di kamus artinya. Saya memang tidak bisa memahami secara utuh isi acaranya dan sering terlambat tertawa, tetapi cara tersebut cukup efektif karena berikutnya saya jadi ingin tahu secara utuh isi dari acara-acara tv tersebut. Karena semakin terbiasa membaca, semakin lama semakin banyak huruf yang saya hafal dan semakin banyak kosakata yang saya pahami.

Cara-cara diatas mungkin berhasil bagi saya karena saya menyukai ketiga hal diatas. Namun intinya adalah belajar bahasa Jepang bisa dilakukan melalui media yang kita sukai. Kemampuan membaca dapat diasah melalui hal-hal yang disukai tersebut. Jika sudah bisa membaca, maka menulis di komputer pasti akan bisa. Namun untuk menulis tangan hanya bisa dilakukan dengan latihan menukis saja. Sedangkan untuk kemampuan berbicara, cara yang paling baik adalah berkomunikasi langsung dengan orang Jepang. Cara lain yang bisa dilakukan adalah memaksakan diri untuk berbicara dengan menggunakan bahasa Jepang kepada sesama orang Indonesia. Tentu saja hasilnya tidak akan seefektif ketika berkomunikasi dengan orang Jepang.

Mudah-mudahan tips ini dapat membantu. Gambatte kudasai!

2 Comments

Filed under Uncategorized

Penerjemah komik Jepang

Pada saat blog ini ditulis, sudah hampir 2 tahun saya menjadi penerjemah komik jepang. Awalnya sekedar iseng-iseng ketika sedang browsing di internet, saya menemukan lowongan untuk menjadi penerjemah lepas komik Jepang di sebuah penerbit. Setelah lulus ujian penerimaan berupa menerjemahkan kurang lebih 20 halaman komik, saya pun mulai bekerja sebagai penerjemah komik Jepang di penerbit tersebut. Jika saya bandingkan hasil terjemahan dulu dan sekarang, saya merasakan perbedaan dalam hasil terjemahannya. Satu yang paling terasa adalah mengenai tingkat kewajaran atau keberterimaan dalam Bahasa Indonesia. Tentunya saya tidak memungkiri bahwa peran editor sangatlah besar untuk memperbaiki hasil terjemahan saya. Setiap hasil terjemahan saya terbit, saya selalu membandingkan dengan terjemahan yang saya kirimkan ke penerbit dan memperhatikan perbedaan-perbedaannya. Pada saat-saat awal, saya melihat cukup banyak perbaikan yang dilakukan terhadap hasil terjemahan saya. Hal tersebut membuat saya paham bahwa menerjemahkan bukanlah sekedar mengganti kata dari bahasa asli saja. Dalam sebuah buku mengenai teori penerjemahan dikatakan bahwa menerjemahkan adalah menyampaikan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Hal inilah yang sebelumnya kurang saya perhatikan. Sering kali saya terlalu terpaku untuk menerjemahkan kata perkata dari bahasa Jepang, sehingga ketika dibaca kembali susunan bahasa Indonesia-nya menjadi kacau atau menjadi kalimat yang sulit di mengerti.

Saya pun kemudian berusaha agar terjemahan saya menjadi lebih baik. Selain membaca buku mengenai teori penerjemahan, saya pun membaca komik-komik terjemahan baik yang diterjemahkan oleh saya maupun oleh orang lain. Tujuannya adalah untuk mengetahui penggunaan kosakata yang lebih tepat. Terutama penulisan sound effect yang banyak ditemukan pada komik-komik Jepang. Sampai sekarangpun saya masih terus berusaha untuk memperbaiki kualitas terjemahan saya. Saya sering singgah ke situs forum milik penerbit untuk melihat apakah ada komentar mengenai terjemahan saya. Selain itu juga masukan dari teman-teman dan keluarga yang membaca komik hasil terjemahan saya menjadi pendorong agar saya terus memperbaiki diri. Saya juga berharap melalui blog ini dan jejaring sosial, saya bisa mendapat masukan secara langsung dari pembaca komik hasil terjemahan saya.

Beberapa judul komik yang sudah saya terjemahkan adalah:
- Jepang Tenggelam mulai no. 9
- Adamas mulai no.1
- Misaki no.1 mulai no.1
- Hikayat Genji mulai no. 2
- Homunculus mulai no. 9
- Until Death Do Us Part mulai no. 10

Masih ada lagi beberapa judul lain baik yang sudah maupun belum diterbitkan. Saya berharap untuk mendapat masukan yang berarti dari para pembaca. Yoroshiku onegaishimasu. m(_ _)m

12 Comments

Filed under Uncategorized